Minggu itu aku hampir tak pernah lepas dari cengkeraman kesibukan akademis. Ah, apalah arti dari kesibukan itu dibandingkan dengan jerih payah kedua orangtuaku untuk selalu menjaga agar nominal rekeningku tidak overlimit. Toh kesibukanku itu demi masa depanku sendiri. Kesannya monoton memang, namun aku berusaha untuk tetap menjadikannya sebagai suatu hal yang mengasyikkan untuk dijalani. Alasan yang cukup klasik dan sedikit menghibur diri. Namun, itu semua tidak menutupi ekspresi kegamangan yang selama ini tengah kurasakan. Dengan kondisi yang fit dan vitalitas tinggi, kupaksa tubuh ini yang konon menurut dokter belum diperbolehkan banyak mobilisasi yang menyita tenaga. Terdengar cukup rapuh memang, namun secara fisik aku terlihat sangat kuat. Ini bukanlah bagian dari sinetron yang ending nya mengharu-biru. Aku hanya ingin meng-olahragakan tubuh titipan Illahi ini. Singkat kan?Itu bagian dari pagi yang cukup menyegarkan. Aroma embun yang jarang kuhirup pagi itu, benar-benar kunikmati. Sedikit berjalan kaki ternyata sedikit membantu tubuhku untuk siap dan mantap menjalani erobik pagi. Ternyata firasatku benar. Lagi-lagi aku terlambat datang erobik. Kontan saja tempat yang biasa kugunakan, tepatnya di barisan paling depan menjadi hak pakai orang lain, yang tentu saja datang lebih pagi. Sebenarnya aku sudah berusaha untuk bangun lebih awal dan tidak tidur lagi setelahnya. Namun apa daya, ternyata tubuh ini menghendaki untuk dimanjakan di akhir pekan yang cukup menyita waktu ini.Durasi 60 menit menjadi waktu yang lebih dari sekedar cukup. Memang tubuhku tidak langsung bisa segar begitu saja. Ancaman terdekat yang harus kuhadapi adalah resiko kekambuhan sakit yang tengah dianugerahkan padaku. Wallahu ‘alam.Usai pendinginan, rombongan keluargakupun langsung bergerak menuju rumah karena kami lihat awan begitu gelapnya. Maklum saja, bulan ini hujan tak henti-hentinya mengguyur Jakarta. Banjir, tanah longsor, menjadi beberapa bingkisan bagi masyarakat Jakarta yang secara umum dianggap sebagai aliran yang tidak cinta alam, dan sebagainya. Sebuah justifikasi yang tidak adil memang, karena mereka sendiri pun menerima imbas dari tindakan yang tidak jelas pelakunya. Dan yang paling tidak etis lagi, bila ada manusia atau segolongan umat mempersalahkan Tuhan sebagai bagian dari musibah itu. Jadi disini manusia benar-benar dituntut untuk bijak menyikapi hal-hal yang tengah terjadi. Semoga aku salah satu dari segolongan bijak itu. Amin.Tak terasa pagi habis begitu saja. Usai hujan yang mengguyur heningnya pagi di Jakarta, siang pun tak lagi enggan melahap mentari, hingga akhirnya senja bertaburkan kilauan oranye di ufuk barat menjadi kode akhir dari perjalanan sang mentari di hari Minggu ini. Suasana sibuk pun menyelimuti gedung yang berada di salah satu wilayah Jakarta yang cukup sejuk. Agenda kegiatan belajar dengan objek para warga belajar yang putus sekolah akibat urusan finansial yang tak henti-hentinya merongrong kehidupan mereka. Dengan kata lain, rumah yang kini menjadi tempatku berteduh, dan berbagi kasih menjalani skenario durasi 3 jam sebagai tempat belajar para warga belajar, yang tepatnya dilaksanakan mulai dari pukul 18.30-21.30. Hari Minggu itu bukanlah kali pertama diadakannya kegiatan belajar mengajar nonformal yang bertajuk Pendidikan Kesetaraan Paket A, B dan C. Setahun sudah, aku dan beberapa tutor memegang amanah di tempat belajar ini, sebutlah PKBM atau Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat. Sama persis dengan program kerja yang kini dijalani oleh BEM UI. Yang jelas, aku merasakan jiwa-jiwa yang bersemangat dan berdaya juang tinggi. Bagaimana tidak? Mereka rela meluangkan waktu malam mereka untuk belajar di tempat kami yang tidak memiliki standar kelas sesuai ukuran mereka. Maksudnya disini mereka harus belajar dengan kursi dan meja anak TK. Hal itu wajar saja, karena sebenarnya basic tempat tinggal kami adalah sebuah Yayasan Islam, TK, dan TPA. Lengkap sudah pengantarku, walau tidak terlalu detil. Bagiku, warga belajar atau yang sering kupanggil dengan anak murid yang meskipun beberapa dari mereka memiliki usia yang relatif lebih tua dariku adalah bagian dari keluargaku. Semangat dan keinginan mereka telah memberikan simulasi pengalaman hidup bagiku. Tak jarang mereka menyumbangkan energi bagiku untuk tetap tangguh dan tegas membimbing mereka. Bagaimana tidak? Mereka berkeinginan kuat untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik. Dan tak ada kata lain selain, berjuang bersama mereka.Mungkin karena loyalitas tempat belajar itu, akhirnya menyedot perhatian beberapa lapis masyarakat, yang menjadikannya tidak pernah sepi dari aktivitas., termasuk anggota DPRD wilayah setempat. Sejenak akupun terhenyak mendengarkan alur cerita, tepatnya alasan mengapa ada pihak yang sepenting itu mengunjungi tempat belajar kami yang tergolong masih muda. Benar dugaan yang sempat kutepiskan, pasti ada sesuatu dibalik ini semua. Ya, anak dari pejabat itu tidak mampu menyelesaikan pendidikan formalnya di bangku SMA. Tapi kenapa? Jawaban itu segera kuketahui ketika aku tengah menyelesaikan draft laporan warga belajar yang akan mengikuti ujian persamaan yang Insya Allah diadakan bulan Juni tahun ini.
Ketika itu, aku harus memproses beberapa data pelengkap ujian bagi anak muridku di ruang tengah. Segera setelah adzan Isya’ kubawa laptop Compaq nc6000 menuruni tangga menuju ruang tengah yang berada di lantai 1. konsentrasikupun terpusat pada data-data itu. Sambil mengolah data, mataku tak lepas dari sesosok pemuda yang menurutku cukup tampan. Bahkan tak salah bila dibilang sangat tampan. Ya, jujur saja aku curi-curi pandang di tengah lincah jemariku memencet keyboard laptop. Memang pemuda itu tidak sendiri. Dia datang ditemani oleh sang mama yang bisa dibilang cukup cantik untuk seukuran Mariam Belina, dan dua lelaki lain yang tidak cukup menyita perhatianku. Sambil menyalin data-data pribadi anak murid, aku sengaja menguping pembicaraan yang tengah terjadi antara kepala yayasan dan mama sang pemuda tampan itu. Sesekali waktu kulihat pemuda itu merapikan rambut potongan emmo_nya. Sungguh cerminan seorang cowok yang peduli terhadap penampilan. Ketika kuperhatikan style bajunya, terlihat bahwa dia benar-benar perhatian dengan performanya. Sungguh tipikal cowok yang sempurna secara fisik. Inilah daya tarik tersendiri. Dia punya kekhasan yang lain, dia berwajah jawa-oriental, kebayang dong betapa cakepnya. Klo misalnya di-compare dengan artis Indonesia, mungkin dia sekelas dengan Steven Imanuel. Parasnya tanpa cacat segarispun. Lesung pipit yang nampak di kedua pipinya ketika tersenyum, semakin mempertegas pesonanya. Akupun yakin, dia pasti memperhatikan gerak-gerikku. Akupun semakin percaya diri. Bagaimana tidak? Sebelum dia datang pun aku telah terlihat sibuk dengan laptop, dan itu pasti akan membuat perhatiannya tertuju padaku.
….to be continue…
next: read on How to analyze our feeling?

kelanjutannya di mana y? jd pengen tahu
eh dah ketemu deng
mang dah tew dimana kelanjutannya?